1 Comment

4 Point Notable Parenting dari Zaman Batu

Meskipun nenek moyang kita dari Zaman Batu mempunyai banyak kekurangan tehknologi canggih, nenek moyang kita itu tahu apa yang mereka lakukan ketika datang untuk membesarkan anak-anak. Meskipun tidak ada alat bantu pengasuhan bantu modern (seperti, katakanlah, kereta bayi), pendekatan yang lebih sederhana pasti memiliki keistimewaan. Peneliti dari University of Notre Dame melakukan sebuah studi ekstensif sikap asuh dari era pro-Paleolitik, dan berikut adalah hasil istimewa yang sangat penting sista terapkan juga dalam mengasuh buah hati sista :

1. Jaga kedekatan dengan anak-anak. Di Zaman Batu, tanpa baby strollers, nenek moyang kita menghabiskan lebih banyak waktu memegang anak-anak, kata Darcia Narvaez, PhD, yang meneliti efek praktik pengasuhan dari masyarakat pemburu / pengumpul. “Anak-anak yang sering mendapat sentuhan cenderung lebih tenang dan lebih ramah,” katanya.

2. Dorong anak-anak sista bermain dengan anak-anak dari segala usia. Di sekolah dan di tempat lain, anak-anak cenderung dipisahkan oleh usia, umumnya mereka akan dikotak-kotakan dengan teman sebayanya. “Anak-anak kecil meniru perilaku orang-orang yang lebih tua, yang membantu mereka mengembangkan dan dewasa,” kata Dr Narvaez. Dan tentunya bergaul dengan yg lebih muda dapat mengasah jiwa “kepengasuhan” mereka (bisa momong), hal ini tentu akan menjadikan anak-anak lebih toleran, empati dan dewasa (dalam artian sebenarnya, bukan hanya dewasa secara sexual).

3. Mintalah bantuan anak-anak ketika sista membutuhkannya. Nenek moyang di Zaman batu kita,semua pekerjaan rumah tangga dibgagi rata dengan seluruh anggota keluarga, termasuk juga dengan anak-anak. Perlakuan seperti ini berdampak baik bagi kedua belah pihak, yakni pada anak dan orang tua. Anak-anak akan menjadi terampil dlm mengerjakan tugasnya dan otomatis akan lebih bertanggung jawab. Hal ini menjadi bekal utama dalam bertahan hidup (life skill) saat mereka harus mandiri kelak. Dan bagi orang tua, dlm hal ini sista, tentunya akan lebih ringan, meskipun awalnya akan sedikit repot, karena anak-anak perlu “diberi training”terlebih dahulu sebelum bisa mengerjakan tugas harian mereka dengan tepat. Namun seiring waktu, anak-anak pasti akan lebih terampil dalam mengerjakan tugasnya, bahkan si kakak dapat terlibat aktif dalam mengasuh adiknya. “Mereka yang memikul beban pengasuhan sendiri dapat menjadi stres dan kurang mampu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka,” kata Dr Narvaez. “Akibatnya, anak-anak mungkin merasa diabaikan.”

4. Kenali tanda-tanda stress dan frustasi anak sejak dini. Sista bisa mengantisipasi efek lanjutan dari stress/ frustasi anak-anak dan menolong mereka awal. “Jika Anda merasakan anak Anda akan menangis atau semakin marah, bertindak cepat untuk menenangkan dia,” saran Dr. Narvaez.

meski tampak sederhana dan kuno, point parenting di atas tetap sangat perlu diterapkan pada anak-anak kita. Point-point di atas adalah point krusial yg membentuk pondasi life skill anak-anak kita dalam menghadapi problematika di kehidupan mereka kelak.

You might also like
Tags: , ,

More Similar Posts

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu